Langsung ke konten utama

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

    Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".

    Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalukan!

    Ibu, aku membayang-bayangkan hari kemarin dan yang akan datang. Ah, bagaimana kita tahu kekerasan dengan macam rupa itu hanya terjadi sekali dan tidak akan berulang? Ah, sudah berapa lama hidup perempuan itu diselimuti ketakutan dan ketergantungan? Ah, apakah kemudian lingkungan sekitarnya hadir untuk mengerti, menyembuhkan, dan memupukkan keberanian, sehingga ia mampu menghentikan hubungan merugikan yang memang sepantasnya dihentikan?

    Ibu diam saja, seperti biasa. Aku berhenti dan bersedih sebentar. Kami jarang bicara. Sungguh menghabiskan tenaga -membosankan juga- kala itu terlibat perdebatan seputar agama, mitos, moral, nilai sosial, dan hal-hal lain yang itu-itu saja. Barangkali sudah empat tahun aku memilih diam, bicara seadanya, memperlihatkan ketidaktertarikan, atau suatu kali lebih buruk dari ketiganya. Hanya pada topik -yang kuanggap penting- tertentu, aku sering merasa lebih tahu, banyak bicara dan ibu tidak lagi berani menyela. Seharusnya kupahami, segala ketetapan sekaligus ketidaktahuan-keterbatasannya adalah dampak ketimpangan akses, kungkungan budaya yang menempatkan subjek pada posisi sekunder. Yang ia lakukan selama hidup -pada akhirnya- hanyalah menaruh kepercayaan penuh terhadap apa-apa yang sudah dikonstruksi masyarakat sebagai kodrat perempuan dan menjalankan peran menyedihkan itu sebaik-baiknya.

Ah. Ibu yang paling pandai membendung air mata ketika merasakan luka. Ibu yang tidak lagi dipercaya anak-anaknya, ibu yang terlalu sering mengubur keinginannya sendiri. Sekarang ia takut padaku, kelanjutan setelah puluhan tahun takut pada bapak. "Terima kasih sudah menelepon. Selamat menjalani hari", tutupnya.

    Aku mandi menenangkan diri, berkaca telanjang setelahnya. Merasai wajah begitu tampan ketika tetes-tetes air dari rambut turun perlahan, sesaat sebelum menurunkan pandangan ke bawah memandangi penisku yang kerut, menggantung dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali, kemudian mengingat banyak hal.
"Membaca kitab, menambal atap yang bocor, menanak nasi, menidurkan bayi, lalu merencanakan bunuh diri"
"Kampungnya geger kabar perempuan muda dan bayinya mati dalam kamar"
"Perempuan gila diperkosa ramai-ramai di pojokan pasar"
"Kau tidak datang ke tempat kami malam hari, dengar Mayang dan emaknya bentak-bentakan"
"Kasir restoran cepat saji membacakan puisi anaknya sendiri yang ditulis tadi pagi, tepat di bawah lampu jalan"
Adegan Michael Corleone menggampar Kay keras-keras karena janin putranya digugurkan sungguh tidak membuatku simpati. Malam sepulang bimbingan pelajaran, teman sekolah menengah ditampar dan dijambak laki-lakinya yang berusia jauh lebih tua entah karena apa. Kejadian tepat di pinggir jalan dan orang-orang tidak berani melakukan apa-apa.

    Ada lagi. Halimah, penjual cireng yang sering membantu pekerjaan rumah tangga ibu, meminjam uang untuk kesekian kalinya sambil bercerita kalau si suami pergi begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu. Ehm, kecuali hutang. Kini keperluan sekolah dua bocah dan gedor pintu depkolektor jadi tanggung jawab Halimah, sementara masih belum sembuh betul lebam di sekitar mata dan lengannya.
Rasanya masih kemarin, berada dalam lingkaran orang-orang yang banyak bicara perihal kesenian, pemikiran, ide-gagasan, hingga perlawanan terhadap ketidakadilan. Kepul asap memenuhi ruangan, gelak tawa yang memuakkan, ternyata mereka gengsi dan bungkam kalau ada bahasan-bahasan sederhana menyangkut perempuan, kesetaraan, dan ruang aman.

    Di dalam ruang yang lebih sempit tempatku tinggal, tumbuh dan mendewasa, masih saja kuat bernaung fasisme jawa dan agama. Patriarki, dominasi laki-laki menjelma berbagai bentuk penindasan hingga perempuan-perempuannya barangkali terus menderita di sisa hidup. Lebih menyakitkan lagi kalau tiap harinya aku harus melihat senyum mereka yang pura-pura.

    Berita perihal meningkatnya KDRT semasa pandemi deras membanjiri sosial media, sementara aku gelisah berlumur rasa bersalah sebab pernah-masih saja memelihara ego maskulinitas dalam pikiran. Masih kuat ingatan bentuk-bentuk eskpresi ego tersebut pada waktu-waktu menjalani hubungan, dan cuihhh, Aku meludah ke lantai sambil memaki diri sendiri, "Sungguh rapuh dan memalukan!".

Surabaya, 23 Juni 2020

Komentar

  1. Pernah bertemu bapakmu di meja operasi sebanyak dua kali membuatku seolah bisa membayangkan bagaimana keadaan perempuan yang patah tulang rahangnya itu saat dioperasi. Pasti bapakmu bisa menenangkan pasiennya karena beliau hebat dengan caranya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Terima kasih kusampaikan. Sehat selalu Ines dan keluarga.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...