Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Pukul Satu

Perasaan yang sungguh aneh luar biasa, mendapati aku sendiri yang terbangun pukul satu dan bunyi jam itu. Nyatanya permainan cepat-lambat kejam sekali. Di pukul satu lalu-lalu yang tidak benar-benar jauh, gesekan batu korek api dan suara seseorang menutup sepi. Seseorang yang tidak pernah istirahat dengan kenangan atau barangkali rencananya. Seseorang yang tidak berhenti bebarengan menghibur bayangnya dalam cermin sambil mencoba memaafkan diri sendiri. Jegrek! Jegrek! Frame-frame berurutan memutar cepat, banyak hal terjadi hingga aku bayangmu, asing dengan pukul satu yang nyata sekarang ini. Tapi apa masalahnya? Abstrak yang tidur di tubuhmu rasanya membuat segalanya jadi baru. Baru yang baik dan menyenangkan, semoga benar begitu. Perjalanan berulang kesana kemari dan pembelajaran yang lucu, kembalinya orang-orang yang pantas kau percaya, obrolan tentang buku dan hal-hal lain yang juga baru. Hey, Camus barangkali tersenyum melihatmu merentangkan tangan padaku. Kau bangun pagi, ma...

Pentas

Pentas belum selesai. Aku benar-benar kelelahan. Ia berdiri sejak awal di samping kanan panggung, lekas aku hampiri lalu menangis padanya. "Mereka hadir disini, hidup dalam penderitaannya sendiri-sendiri. Aku tak sanggup menyelesaikannya. Sia-sia jerit dan kebisingan di atas panggung keterasingan ini jika bisa dipastikan berakhir disalahpahami, atau lebih lagi tanpa anggapan, tanpa anggapan". Ia diam saja. Matanya berkaca-kaca, cantik sekali. Masuk adegan terakhir setelah hampir dua jam lamanya. Make-up tebal, rambut palsu, dan kostum ketat ini benar-benar bikin gerah. Kru baru saja menyapu bonggol jagung dan arang-arang yang berserakan, menancapkan papan nama pemilik lahan di pojokan, dan menggelar tikar di atas balok bernisan serupa kuburan. Ia balik ke tirai dan mengacungkan jempol padaku. Lampu nyala, aku masuk, tokoh laki-laki masuk. "Nensi", panggilnya sambil menari-nari, mengulur waktu, membuka satu persatu kancing baju. Aku rebahan lalu ia naik ke bad...

Wabah

Beberapa waktu sudah wabah menyerang. Orang-orang kota besar membicarakan ketakutan akan rasa lapar dan banyak hal lagi. Sore tadi aku dengar mereka berkasak-kusuk usai nonton berita, barangkali perihal nestapa membayangkan tubuh-tubuh yang mati gara-gara wabah harus dikebumikan sedemikian rupa. Tidak dimandikan, tidak didoakan, tidak sempat pula dipandangi rupanya oleh keluarga dan orang-orang tersayang untuk terakhir kali. Di dalam truk bertumpuk-tumpuk, di dalam kubur bertumpuk-tumpuk. Seperti sampah, kata mereka. Dini hari di ruang tunggu stasiun, aku butuh satu-dua hisapan rokok saja. Berhenti kuteruskan sebelum merangsang rangka lemah ini minta rebah dan ambruk. Aku terpikir ibu lagi. Aku belum mengirim pesan permintaan maaf padanya atas perlakuan burukku beberapa hari lalu. Aku terpikir mereka lagi. Jika tubuh-tubuh mati memanglah sampah dan tak ada perlunya menambahkan kata 'seperti', untuk apa suatu saat nanti aku-mereka harus mendapat perlakuan-perlakuan bak obj...

Catatan: Hari Perempuan Internasional

Di dalam kamar yang paling lama saya tinggali, masih saja kuat bernaung fasisme jawa dan agama. Patriarki, dominasi laki-laki menjelma berbagai bentuk penindasan hingga perempuan-perempuannya barangkali terus menderita di sisa hidup. Lebih menyakitkan lagi karena tiap harinya saya harus melihat senyum yang pura-pura. Di dalam kamar yang lain, saya temui orang-orang banyak bicara perihal kesenian, pemikiran, ide-gagasan, hingga perlawanan. Kepul asap memenuhi ruangan, gelak tawa yang memuakkan, ternyata mereka gengsi dan bungkam kalau ada bahasan-bahasan sederhana menyangkut perempuan, kesetaraan, dan ruang aman. Di dalam kamar yang rumit berlembar-lembar, seorang istri menodongkan pistol pada pihak-pihak asuransi kesehatan, dalam kondisi si suami sakit keras dan mereka mempermainkan. Di lembar lain, seorang pelacur memberikan cara pandang baru perkara kehormatan dan kebebasan. Di dalam kamar yang intim, saya kenal perempuan-perempuan hebat dengan kisah-kisah yang hebat. Mere...