Langsung ke konten utama

Mata

Hei,
Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihatmu menyelipkan rambut di belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi

Ah, akupun juga khawatir tulisan ini sama sekali tidak membawa arti

Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihatmu berkenalan dengan anak kucing sambil mengomel tentang mahasiswa-mahasiswa yang begitu mencintai dirinya sendiri


Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihatmu terbata-bata berbahasa tapi sangat hormat dan senang hati berbicara pada orang-orang yang sudah tua usianya

Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihatmu menangis terisak-isak saat sedang kecewa pada dirimu sendiri ataupun saat benar-benar tersinggung karena anak-anak generasi depan yang tak berdosa menjadi korban peperangan orang dewasa,
Saat benar-benar tersinggung karena kemanusiaan sedang dihina

Hei, kau secantik ibuku saat menangis

Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihat kau tidak pernah lelah membicarakan ilmu-ilmu dan mencaritahu makna-makna tiap hari
Begitu khawatir karena tak ingin jadi sama dengan ribuan sarjana yang isi kepalanya sudah disiapkan jadi mesin industri oleh orang-orang dewasa tadi

Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihat raut wajahmu saat membaca puisi-puisi jelek yang aku buat
Entah raut itu berarti menilai atau hanya menerka-nerka, meski akhirnya akan kau anggap doa dan kau aminkan

Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihatmu bertanya-tanya kemudian menyimpulkan sendiri bahwa dunia memang sedang tidak baik-baik saja
Semua karut-marut ini sudah terencana dan bagaimana harus menyikapinya

Aku mencinta pada hal-hal sederhana
Melihatmu sedang melihatku
Sesaat saja lalu berpaling lagi, malu

"Mengapa kau tuliskan berjuta kata untuk mencinta?"

Sudah beberapa kali kukatakan dan kutuliskan
Manusia ditakdirkan untuk bertatap mata, berharap, yakin, saling mendoakan, dan saling tidak mengerti

***

Jember, 3 Januari 2017
Mohon maaf jika tulisan ini memang sia-sia untuk generasi

Komentar

  1. Suka sekali ini...

    Bukan bersungguh-bersungguh dalam perjuangan, tapi juga ketika mencinta...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...