Langsung ke konten utama

Kancing

kancing seragamku lepas
tersangkut pagar saat mengejar layang-layang sepulang sekolah
malamnya ibu mengomel
sambil menjahit
anak itu  sok jagoan di sekolah
aku ini sama-sama mlarat dengannya, kok dipalak
kutolak memberi uang, aku didorong
kupukul dia di perutnya karena aku kecil
dia balas pukul ke mukaku, hidungku berdarah, aku terlempar ke tumpukan bangku belakang kelas
kancing seragamku lepas
aku lari pulang, menangis pada ibu
katanya, jangan menangis, jangan menangis
malamnya ibu mengomel
sambil menjahit


aku lapor pada guru
anak itu diskors seminggu
minggu besoknya sepulang sekolah aku dihadang di gang kampung
dihajar
perutku sakit, hidungku berdarah, bibirku berdarah
kancing seragamku lepas
aku lari pulang, menangis pada ibu, aku benci anak itu
katanya, jangan menangis, jangan menangis
malamnya ibu mengomel
sambil menjahit
membiarkan aku  tidur di pahanya


berangkat sekolah
tasku berat, kuisi batu
pulang sekolah kutantang dia di gang kampung
mukaku dipukul, hidungku berdarah
aku bangun, dipukul lagi, jatuh, bibirku berdarah
aku bangun lagi
kupukul kepalanya dengan batu keras-keras
dia berdarah, tersungkur
mukanya amat ketakutan
kulihat kancing seragamku lepas
di kain ada bercak darah anak itu
aku lari pulang, cerita pada ibu
malamnya ibu menjahit
tidak mengomel
ibu menangis

kubilang pada ibu
jahitan ibu kurang baik bu
kancingnya mudah

***

28 Maret 2016
Untuk Adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...