Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Jangan Menangis, Adikku

adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang laki-laki yang bekerja dalam dendamnya tawa dan keikhlasan menggantikan tangisnya bertindak begitu bijaksana dalam amarahnya dan kau mengaguminya aku pernah menceritakan padamu tentang perumpamaan-perumpamaan bagus milik sajak penyair besar tentang semua laku kehidupan yang saling berhubungan dan kau terus mempertanyakannya ingatkah kau adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang buku-buku yang mengantar kita lintas waktu dan peristiwa yang memberi tahu tentang kejujuran, kekuatan, dan keberanian yang memberi tahu tentang kenyataan dan tragedi yang memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa bahwa kita manusia kecil yang tidak tahu apa-apa dan kau mengajakku untuk berbicara masa depan

Penyair Zaman

Aku ingin jadi penyair aku tanya pada guru bahasa indonesia yang aku senangi karena bicaranya sedikit, tapi banyak ilmunya katanya, jika aku ingin menuliskan aku harus pandai menyaksikan kemudian aku menyaksikan mereka yang muda amat praktis menangis pada televisi dan layar raksasa ketika seorang tua tersenyum bahagia setelah memberi separuh makanannya pada anak kucing yang kurus kering aku menyaksikan doa dan gelak tawa bergantian suaranya dari keluarga berjumlah sembilan yang sedang berbagi mi instan ketika keluarga lain terus menumpuk makanan sampai busuk terus bicara sampai berbusa tentang putra putri mereka harus jadi apa

Dari Jendela Kereta Aku Melihat Monster

dari surabaya kutempuh jember dengan kereta aku tidak bosan selalu gagah usia tidak mengurangi lajunya dalam kepastian dia meraung-raung aku, supir, dokter, mahasiswa, pejabat yang selalu terburu-buru, polisi, mobil bagus, mobil Jelek, hormat padanya aku mengantuk dan kusandarkan kepala ke jendela kubaca di HP berita orang-orang yang katanya membela Tuhan sepengetahuanku mereka beriman pada atasan lucu, tapi membosankan

Kancing

kancing seragamku lepas tersangkut pagar saat mengejar layang-layang sepulang sekolah malamnya ibu mengomel sambil menjahit anak itu  sok jagoan di sekolah aku ini sama-sama mlarat dengannya, kok dipalak kutolak memberi uang, aku didorong kupukul dia di perutnya karena aku kecil dia balas pukul ke mukaku, hidungku berdarah, aku terlempar ke tumpukan bangku belakang kelas kancing seragamku lepas aku lari pulang, menangis pada ibu katanya, jangan menangis, jangan menangis malamnya ibu mengomel sambil menjahit