Langsung ke konten utama

Penyair Zaman

Aku ingin jadi penyair
aku tanya pada guru bahasa indonesia yang aku senangi
karena bicaranya sedikit, tapi banyak ilmunya

katanya,
jika aku ingin menuliskan
aku harus pandai menyaksikan

kemudian aku menyaksikan
mereka yang muda amat praktis menangis pada televisi dan layar raksasa
ketika seorang tua tersenyum bahagia
setelah memberi separuh makanannya pada anak kucing yang kurus kering

aku menyaksikan
doa dan gelak tawa bergantian suaranya
dari keluarga berjumlah sembilan yang sedang berbagi mi instan
ketika keluarga lain terus menumpuk makanan sampai busuk
terus bicara sampai berbusa
tentang putra putri mereka harus jadi apa


aku menyaksikan
segelintir mahasiswa mengisi paru-parunya dengan bahan bakar keberanian yang tak kunjung penuh
ketika segelintir yang lain hanya belajar dari buku dan umpatan orang tua yang kekanak-kanakan
kemudian mereka masuk kamar
lalu onani

aku menyaksikan
timur indonesiaku tanahnya diperkosa traktor dan alat bor yang bentuknya seperti penis besar
orang-orang mudanya yang protes dibungkam kekerasan oleh aparat sendiri
ketika di barat investornya tidak pernah capek mengangkang
orang-orang mudanya membeli sepatu impor belasan juta dan berpiring-piring makanan manis
tanpa sadar beberapa tahun lagi mereka diabetes

aku menyaksikan
pemuka agama marah-marah kemudian sikapnya intoleran dan suka mengkafir-kafirkan
petang harinya pulang
menegur anak-anak kecil yang berlarian dan bersenda gurau di tempat ibadah
lalu besoknya marah-marah lagi
ketika orang-orang lain yang menghamba pada korporat terus bekerja
petang harinya membunyikan bel motor terus-terusan karena ingin segera sampai rumah
mereka berdzikir setelah menyantap makan malam yang sedikit
cepat-cepat berseragam setelah bangun dari mimpi buruk
lalu kembali bekerja pada korporat

aku menyaksikan
penjahat-penjahat negara yang tidur nyenyak karena penegak hukumnya sama sekali tidak bisa diharapkan
ketika istri dan anak-anak korban hak asasi manusia
setiap malam terus berusaha menumbuk rasa sakit dan dendam menjadi sebuah keikhlasan

aku menyaksikan
mereka berseragam dan bersenjata tapi begitu ketakutan pada hantu karena tidak pernah baca buku
lalu menindas, menekan, memberangus seenak udel dalam halusinasinya
terhadap pembelajar yang sedang mencari kebenaran sederhana
ketika pembelajar-pembelajar yang lain terus bertumbuh, berkarya, dan bergerilya
otaknya tidak pernah berhenti bekerja
terus diisi pemahaman sebanyak-banyaknya

aku ingin jadi penyair
aku tanya pada guru bahasa indonesia yang aku senangi
karena bicaranya sedikit, tapi banyak ilmunya

Guru,
setelah aku menyaksikan, kemudian mana yang harus aku tuliskan?
mana yang harus kupilih antara harapan dan keputusasaan,
atau mereka itu adalah satu kesatuan?
dan, harus kubacakan pada siapa puisi ini,
kalau telinga dan hati orang-orang sudah tertutup zaman?

***

Marsetio Hariadi, 26 Oktober 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATCH A NOTHING (Indonesia & English)

Jalan yang panjang gersang hanya dapat kutatap fatamorgana organ tubuh seakan ingin berteriak lantang "aku mau mati, aku mau mati" Tatapan kosong tak kunjung usai Kakiku menyeret tak lagi lurus sekali lagi mereka berteriak "aku mau mati, aku mau mati" kecuali hati Tak mau berhenti, terus memaksa tak mau menyerah, semangat membara Padahal mereka ingin menutup mata ingin lepas dari ini, ingin bahagia kecuali hati Sampai kulihat sesosok bayangan Jarakku 1 kilometer dengannya hati memaksa kaki berjalan terengah-engah berharap disambutnya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 2 kilometer dengannya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 4 kilometer dengannya menjauh aku mendekat dia menjauh menjauh hingga aku terjatuh dan terbaring Long   road   arid I looked   only be   a mirage organs   of the body   as if to   scream   out loud " I   want to die ,   I   want to die " Blank stares   not end Draggi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Wabah

Beberapa waktu sudah wabah menyerang. Orang-orang kota besar membicarakan ketakutan akan rasa lapar dan banyak hal lagi. Sore tadi aku dengar mereka berkasak-kusuk usai nonton berita, barangkali perihal nestapa membayangkan tubuh-tubuh yang mati gara-gara wabah harus dikebumikan sedemikian rupa. Tidak dimandikan, tidak didoakan, tidak sempat pula dipandangi rupanya oleh keluarga dan orang-orang tersayang untuk terakhir kali. Di dalam truk bertumpuk-tumpuk, di dalam kubur bertumpuk-tumpuk. Seperti sampah, kata mereka. Dini hari di ruang tunggu stasiun, aku butuh satu-dua hisapan rokok saja. Berhenti kuteruskan sebelum merangsang rangka lemah ini minta rebah dan ambruk. Aku terpikir ibu lagi. Aku belum mengirim pesan permintaan maaf padanya atas perlakuan burukku beberapa hari lalu. Aku terpikir mereka lagi. Jika tubuh-tubuh mati memanglah sampah dan tak ada perlunya menambahkan kata 'seperti', untuk apa suatu saat nanti aku-mereka harus mendapat perlakuan-perlakuan bak obj...