Langsung ke konten utama

Jangan Menangis, Adikku

adikku,
aku pernah menceritakan padamu
tentang laki-laki yang bekerja dalam dendamnya
tawa dan keikhlasan menggantikan tangisnya
bertindak begitu bijaksana dalam amarahnya
dan kau mengaguminya

aku pernah menceritakan padamu
tentang perumpamaan-perumpamaan bagus milik sajak penyair besar
tentang semua laku kehidupan yang saling berhubungan
dan kau terus mempertanyakannya

ingatkah kau adikku,
aku pernah menceritakan padamu
tentang buku-buku
yang mengantar kita lintas waktu dan peristiwa
yang memberi tahu tentang kejujuran, kekuatan, dan keberanian
yang memberi tahu tentang kenyataan dan tragedi
yang memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa
bahwa kita manusia kecil yang tidak tahu apa-apa
dan kau mengajakku untuk berbicara masa depan

aku pernah menceritakan padamu
tujuan hidup itu sederhana
kebaikan, keadilan, dan kebenaran
dan kau bilang ketiganya sulit tercapai di masa ini
tapi kau mempercayainya

aku pernah menceritakan padamu
tentang penjahat-penjahat negara yang tidur nyenyak
tentang penegak hukum yang sama sekali tidak bisa diharapkan
tentang istri dan anak-anak korban hak asasi manusia
setiap malam menanti pimpinan keluarganya pulang
setiap malam terus berusaha menumbuk rasa sakit dan dendam menjadi sebuah keikhlasan
mereka rindu beribadah bersama
kau menulis puisi
dan mendoakannya

oh ya adikku,
aku pernah menceritakan padamu
tentang cinta itu adalah keteguhan 
dari dua insan yang berjalan bersama menarik pedati penuh kekurangan
bahwa jarak adalah bagian dari perjalanan
perpisahan adalah bagian dari kehidupan
dan kau  membencinya

aku pernah menyanyikanmu sebuah lagu saat kau sedang bersedih
lagu itu membuatmu semakin bersedih
kau tahu aku tidak sengaja
dan kau ikut menyanyikannya sambil berkaca-kaca

aku pernah memperhatikanmu
sedang memikirkan banyak hal
kau selipkan rambut ke belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi
kau dengarkan baik-baik cerita dan air mata kawan-kawan
diammu membelai rambut-rambut mereka
senyummu memeluk hangat tubuh-tubuh mereka
layaknya seorang ibu
dan aku menyukainya

adikku,
dalam senyum lembutmu aku temukan
kekuatan dan keindahan rasa kasih sayang
dalam tatapan sayumu aku nikmati
keyakinan yang tak tergoyahkan
dalam tangis kecilmu aku melihat
begitu besar ketegaran

ah... jangan menangis, adikku
sudah lama kita bersama
dan bertahan dari terpaan ombak kerinduan
ah... kita tahu, adikku
serpihan-serpihan ombak yang tajam dan berkilau itu
selalu kita genggam erat
dan kita lepas kembali menjadi sebuah doa

aku di belakangmu, menjagamu dalam pandangku

***

Pacet, Mojokerto
19 November 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...