Langsung ke konten utama

Dari Jendela Kereta Aku Melihat Monster

dari surabaya kutempuh jember dengan kereta
aku tidak bosan
selalu gagah
usia tidak mengurangi lajunya
dalam kepastian dia meraung-raung
aku,
supir,
dokter,
mahasiswa,
pejabat yang selalu terburu-buru,
polisi,
mobil bagus,
mobil Jelek,
hormat padanya

aku mengantuk dan kusandarkan kepala ke jendela
kubaca di HP berita orang-orang yang katanya membela Tuhan
sepengetahuanku mereka beriman pada atasan
lucu, tapi membosankan

kulihat kendaraan-kendaraan di jalan raya
macet
belnya bersahut-sahutan
berlomba mengejar kebahagiaan semu
dan aku teringat tentang monster

monster-monster itu lahir dari nafsu
lahir dari kepalsuan dan ketidaksejatian
monster-monster itu lahir dari pembangunan

oh generasi yang menyedihkan, ketidaksadaran ini memakan waktu

monster-monster itu beroda
metalik, mengkilap, arogan
tanpa menoleh ke belakang dan mengurangi kecepatan
siang malam menghajar jalanan

monster-monster itu tidak berkawan
mereka lapar
diisi jutaan liter bahan bakar
mereka tetap lapar
mereka saling bunuh
tidak sedikit monster yang membusuk dimakan belatung
atau habis tak tersisa dimakan monster lain

Oh generasi yang menyedihkan, ketidaksadaran ini memakan waktu

ribuan tangan manusia yang menghamba pada monster itu terus bekerja
tanpa henti, tanpa henti bekerja
mereka berdzikir setelah menyantap makan malam yang sedikit
mereka cepat-cepat berseragam setelah bangun dari mimpi buruk
lalu kembali bekerja, pada monster-monster

lihatlah
lahan-lahan diratakan
jalan-jalan dibukakan
entah berapa jumlah tenaga yang dikorbankan
dan mereka, orang-orang dipinggir jalan
berulang di tv-tv tentang penggusuran, penghancuran, dan tangisan
kemudian tangisan itu kalian perbincangkan, kalian perdebatkan

Sementara roda dari monster-monster itu terus lahir dan terus bergerak
bebas hambatan

Oh generasi yang menyedihkan, ketidaksadaran ini memakan waktu
dan aku tertidur
Jember masih jauh

***
Marsetio Hariadi
27 Juni 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...