Langsung ke konten utama

Cinta Melulu



Assalamualaikum Wr. Wb

Terinspirasi dari sajak Bapak WS. Rendra, Sajak Seonggok Jagung, lalu tertulislah ini.
Monggo, semoga bermanfaat.

***

namanya Sugeng
ayah ibunya guru berpenghasilan kecil
adik-adiknya banyak

tiap malam tangannya memegang rokok
jika sendiri ia bersyukur dan mencari arti
jika bersama kawan ia bersyukur, bersamaan dengan pembicaraan berarti
"Bagaimana belajarmu?
rasanya buku-buku itu semakin membuatku takut pada kenyataan


lalu tak ingin mengenalnya
lalu ingin menjauhinya
seperti kucing anggora saja
seperti hamster saja
seperti cihuahua saja
yang takut melihat banyak sekali anjing jalanan di kenyataan

Cinta memang bangsat
lama aku mengenalnya dan menyukainya
penuh isi kepalaku ini memikirkan segala kemungkinan tentangnya
dia seperti harimau
sering aku menikmatinya dari kejauhan
jika dekat aku takut dia terganggu dan mengaum
sampai dia lulus dan meninggalkan kota ini
aku baru dengar ternyata dia menungguku
ah jancok! aku ingin menangis
Setiap manusia selalu dilahirkan untuk berhadapan, berharap, yakin, saling mendoakan, dan saling tidak mengerti
Bukan cinta...
Pikiran pikiran ini yang bangsat

Seperti dulu, di hari esok pun, air di bumi akan menjadi merah
ganjaran orang yang makan bagian orang lain itu jelas neraka
ganjaran pembunuh-pembunuh itu jelas neraka
ganjaran orang-orang lupa moral dan nurani itu jelas neraka
ganjaran manusia yang lupa caranya jadi manusia itu jelas neraka
Kita yang sok tahu dalam menyimpulkan keadaan, juga jelas neraka
yang masuk surga itu, kucing anggora, hamster, dan cihuahua yang tidak tahu apa-apa
hahahahahahaha...
Ayo makan sate, sudah lama aku tidak makan sate
kutraktir, besok aku kerja lagi, bakal jarang datang kesini"

Kuperhatikan dia
pikirannya makin lama cinta melulu
tapi bukan seperti kucing anggora yang ingin kawin
dia tahu dimana mencari kebahagiaan kecil dalam kenyataan
dia memberitahuku untuk terus merendah
karena tubuh ini sangat kecil dibandingkan dengan semesta
karena tubuh ini tidak bisa apa-apa

hiduplah dalam kehidupan, lalu hidupkan

Jancok! Dia mempermalukanku!

14 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Sejenak Menjadi Orang Paling Bahagia

sirene ambulans tanpa pasien meraung-raung mobil-mobil plat merah dan hijau mau tidak mau harus merendahkan harga dirinya beberapa kali aku merasa seperti pahlawan setelah terpaksa kuhentikan kendaraanku dan kupersilakan kendaraan lain lewat pertanyaan kulontarkan sebelum menguap bersama umpatan dan bising klakson mengapa di jalanan orang-orang mempertontonkan kuasa dan kebebasannya meyakini keputusan-keputusannya memperjuangkan hak-haknya tapi sepulangnya kembali menangis pasrah menerima nasib? kecemasan dan penderitaan kegagalan kehidupan hasrat yang sia-sia sejenak aku menjadi orang paling bahagia di tengah kemacetan jalan raya tak ada yang harus diharapkan sampai aku tak ingat untuk melihat jam tangan dan mungkin, aku punya lebih banyak waktu untuk memahami mereka *** Surabaya, 30 November 2017 Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Naik Pangkat

Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib lalu tidur pukul sembilan Ibu akan memukul bokongku dengan penebah kalau aku terlambat pulang setelah bermain atau kalau nilai rapotku jelek atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv  Ibu sering menangis dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis Ibu mengajarkanku tentang kehormatan cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa Ibu pernah menamparku saat aku berbohong telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya Ibu adalah orang yang ikhlas aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar air mat...