Langsung ke konten utama

Aku Ingin Kecil Lagi

Assalamualaikum Wr. Wb
Banyak sekali hal-hal yang saya dapat dalam kurun waktu beberapa bulan ini.
Dan saatnya mulai belajar lagi, sebagai manusia yang sekecil-kecilnya dibanding ciptaan Tuhan yang lain.

Semoga bermanfaat.

***

Didepan layar kaca
di koran-koran
Melihat tentang mereka
mereka yang berjuang dibunuh
lalu masihkah manusia berakal mengharamkan pembunuhan?
masihkah manusia berakal membohongi diri sendiri
untuk haram bicara dendam

Melihat manusia-manusia sedang berperang
saudara dengan saudara saling serang
kebenaran dengan kebenaran saling lawan

Dia bilang
"Bumi itu padang peperangan
lautan juga saksi pelarian
dan kapal-kapal tenggelam-menenggelamkan"

Dia bilang
"Manusia bicara keharmonisan
Manusia bicara kedamaian
Padahal damai adalah kematian"

Pernah manusia berakal berpikir
Mereka berperang bukan berawal dari belajar dan memahami
tapi  mereka golongan yang sudah dirancang untuk ada, untuk berperang
Panjang umur perjuangan
Nama-nama kalian sudah tertulis di Kitab-kitab

Aku ingin kecil lagi
belajar bicara, belajar minta maaf, belajar berterima kasih, belajar etika

Aku ingin kecil lagi
bersama orang tuaku

yang seakan tak mungkin mati

5 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...