Langsung ke konten utama

CUMA MEMANDANG BOKONG (Marsetio Hariadi)

Beralur,
saat Tuhan sesekali menurunkan cintanya
kesempatan yang ia raih
memuakkan dan ia tak muak dengan itu

beralur,
lari kecil musang hutan mengiringi
sinar yang membutakan
tak menghentikan langkah mencari
teori yang tak bisa disebut kesesatan

beralur memang beralur,
seperti detik
alunan lagu mengalir pelan
Blue sky turning grey
like my love
and who was gonna save you
when i'm gone
and who watch over you
when i'm gone

sedikit nada Alterbridge
mewakili sedikit air mata
saat melihatnya berpaling

kelantangan teks puisi usang
mewakili kemauan yang mendalam
saat berharap tak ingin ia berpaling

api yang tak pernah padam
menggenggam tanganku untuk berlari
mengejar ketidakpastian

ketidakpercayaan yang tak pernah berakhir
menyiksa jiwa
untuk yang terbaik
tak pelak setiap menit menggoreskan luka

dengan darah yang terus menetes dari jarinya
terseret angin menuju samudera tanpa batas
semenit yang sia-sia juga melahirkan janjinya

cuma memandang bokong, satu-satunya
ternyata

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Mata

Hei, Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu menyelipkan rambut di belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi Ah, akupun juga khawatir tulisan ini sama sekali tidak membawa arti Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu berkenalan dengan anak kucing sambil mengomel tentang mahasiswa-mahasiswa yang begitu mencintai dirinya sendiri

Jangan Menangis, Adikku

adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang laki-laki yang bekerja dalam dendamnya tawa dan keikhlasan menggantikan tangisnya bertindak begitu bijaksana dalam amarahnya dan kau mengaguminya aku pernah menceritakan padamu tentang perumpamaan-perumpamaan bagus milik sajak penyair besar tentang semua laku kehidupan yang saling berhubungan dan kau terus mempertanyakannya ingatkah kau adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang buku-buku yang mengantar kita lintas waktu dan peristiwa yang memberi tahu tentang kejujuran, kekuatan, dan keberanian yang memberi tahu tentang kenyataan dan tragedi yang memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa bahwa kita manusia kecil yang tidak tahu apa-apa dan kau mengajakku untuk berbicara masa depan