Langsung ke konten utama

KEBUN TULIP

Aroma rumput yang hijau
ditemani angin tidak enak,
sedikit gerimis yang mengganggu
tapi tak menghentikan langkah kita sore ini
tak melepaskan genggaman tangan kita yang seerat ini


sembari aku marah
"aku benci hujan..
Semua ini menghalangi kita.. "


genggamanmu yang semakin erat
air matamu yang tak mengerti maksudku
aku benci gerimis ini
yang aku suka adalah dirimu
dirimu dan indah matamu
genggamanmu yang semakin erat
air matamu yang tenggelam
tergantikan oleh senyuman manis


kupetik sekuntum keindahan
kutatap sebuah keindahan
kudengar suara keindahan
aku bersama keindahan


pandanganku tertuju pada mata yang menyimpan banyak cerita
bibirmu yang sedikit terbuka seakan ingin bercerita
telingaku yang tak sabar ingin mendengar cerita
sore ini kunikmati indahnya
cerita, cerita, dan cerita
banyak cerita


hari mulai gelap
senyumku tak kunjung berhenti
senyummu tak kunjung habis


sekali lagi kupetik sekuntum keindahan
kutatap sebuah keindahan
kudengar suara keindahan
aku bersama keindahan


keindahan di kebun tulip
lebih-lebih, bersamamu


untuk merrynda kurnianthy, pacar saya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...