Langsung ke konten utama

KEBUN TULIP

Aroma rumput yang hijau
ditemani angin tidak enak,
sedikit gerimis yang mengganggu
tapi tak menghentikan langkah kita sore ini
tak melepaskan genggaman tangan kita yang seerat ini


sembari aku marah
"aku benci hujan..
Semua ini menghalangi kita.. "


genggamanmu yang semakin erat
air matamu yang tak mengerti maksudku
aku benci gerimis ini
yang aku suka adalah dirimu
dirimu dan indah matamu
genggamanmu yang semakin erat
air matamu yang tenggelam
tergantikan oleh senyuman manis


kupetik sekuntum keindahan
kutatap sebuah keindahan
kudengar suara keindahan
aku bersama keindahan


pandanganku tertuju pada mata yang menyimpan banyak cerita
bibirmu yang sedikit terbuka seakan ingin bercerita
telingaku yang tak sabar ingin mendengar cerita
sore ini kunikmati indahnya
cerita, cerita, dan cerita
banyak cerita


hari mulai gelap
senyumku tak kunjung berhenti
senyummu tak kunjung habis


sekali lagi kupetik sekuntum keindahan
kutatap sebuah keindahan
kudengar suara keindahan
aku bersama keindahan


keindahan di kebun tulip
lebih-lebih, bersamamu


untuk merrynda kurnianthy, pacar saya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...