Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

SEBUAH JANJI

5 Februari 2010 Kau dan aku menengadah langit dan berjanji "aku selalu di sisimu.." tataplah aku "oh Tuhan.. kau anugerah terbaik yang kumiliki.." ijinkan aku memperhatikanmu "kenapa kau menangis ?" Ijinkan aku mengecup keningmu "Tak apa.. aku tetap milikmu.." jangan takut ini hanyalah puisi kau tak akan pergi dariku aku tak akan pergi darimu Ijinkan aku memelukmu erat "simpan cintaku ini, Semampumu.." memahami sedih di hatimu namun yang ada hanya kagumku dalam sesaknya dada benarkah di milikku? tertunduk kristal itu mengalir di pipinya sendu tapi kristal itu indah memahami bahagiamu terhampar ladang rumput luas bersamaan terbitnya matahari "Subuh ini cinta kita bersatu cinta kita bersatu cinta kita bersatu.." Ijinkan aku berbisik kepadamu Rembulan tak boleh tahu "Aku cinta engkau selamanya.."

ELEGI

puisi ini saya ciptakan dulu.. tentang orang yang telah kehilangan orang yang dicintainya .. Jember, 2 Februari 2010 Kau cintaku membawaku terbang mengelilingi wahana di kahyangan dewa cinta pemberi anugerahmu menatap dan tersenyum oh aku menatap langit biru nan indah aku menatap senyummu bahagia tenggelam di lautan lepas nan hening tenggelam oleh air matamu terhempas angin semilir dari utara terhempas auramu aku milikmu kau milikku kau cintaku kini kau hilang tak memandang kasihku di kahyangan dewa cinta pemberi anugerahmu menatap dan menitikkan air mata oh langit biru senyum bahagiamu kini aku tak lagi menatapnya lautan lepas air mata harumu kini aku tak lagi ditenggelamkan olehnya angin semilir auramu kini aku tak lagi merasakan kedatangannya aku tak lagi milikmu kau tak lagi milikku

ANAK BODOH ITU

Gagahnya harimau muda itu Namun tak kuasa membengkokkan jeruji ia ingin menatap belantara ia ingin melihat nirwana ia ingin menghirup surga ia ingin menangis tapi tak bisa Anak itu kesulitan menjalani hidup yang memang harus dijalani hatinya terus berjalan, penuh luka bibirnya memang terjahit namun bisa sedikit terbuka pikirannya salah tapi ia terus memaksa menjauh dari dunia penuh paksaan hewan-hewan tertawa di kejauhan ia merasa lebih bahagia ia bukan budak uang seperti yang menertawakannya Daun kering berserakan di depannya di tatapnya daun itu ia mulai bercerita pelan mulutnya memang terjahit namun bisa sedikit terbuka paling tidak ada yang mendengarnya "Dunia itu luas, Kamu itu kecil, protesmu murahan! protesmu mengandai-andai! Kamu bisa apa untuk merubah dunia ?" Anak itu kembali berjalan ia merasa lebih merdeka ia telah menangis

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

JENDERAL

Tulisan ini adalah buah karya dari teman saya dari TEATER SINKRON, Ghaib Hairul Pamungkas. Sebilah pedang tersarung di pinggul pistol berjejeran di dekatnya bintang-bintang pun melekat didadanya dirimu bagai batu karang kokoh amat tak tertandingi tak mudah ditumbangkan namun seiring waktu percikan air menetes dari langit biru perlahan melubangi karang itu perlahan hembusan angin menerpa menggoyahkannya percikan air itu membentuk lubang mungil lubang, lubang, lubang perlahan-lahan makin membesar mengikis kokohnya karang itu serta merta semilir angin kencang menghempaskan meluluh lantakkan tak pelak itu yang dirimu rasakan dirimu termakan usia Itulah itulah dirimu jenderal kini engkau tak mampu mengangkat senjata maupun hanya butiran timah keperkasaannya memudar hanya puing puing karang yang tersisa bahkan kawan kawan seperjuangan berpaling menjauh hilang bak ditelan malam oh.. betapa malangnya dirimu jenderal tak jauh beda, dariku