Langsung ke konten utama

Kamu Tidak Sendirian

Tetes air mata sebuah penyesalan
 Terus mengucur seiring berjalannya waktu
aku ingin semua tahu rasanya kehilangan
kepedihan yang sangat mendalam

tak usah takut
dia tetap melihatmu
tersenyum saat kamu tersenyum
menangis saat kamu menangis
dia ada di hatimu
menemanimu
percayalah

dandani hatimu
milikilah sebuah visi dan misi
tak usah muluk-muluk
sulit namun kamu harus belajar
tanamkanlah
"BANGGAKANLAH DIA"

Kamu tahu dosa
kamu tahu pahala
kamu sudah dewasa
kamu tahu
kamu sudah tahu
apa yang harus kamu lakukan

hidup masih luas
hidupmu masih 10%
jadikan itu sebagai bara api
sebagai semangat
sebagai kemauan untuk maju
untuk apa ?
kembali ke kata tadi
"BANGGAKANLAH DIA"

1 lagi teman
teman, aku, ada untuk kamu
kau bisa jadikan aku sebagai pengganti
sebagai jalan
sebagai tumpuan
untuk menuju kesuksesan
kembali ke kata tadi
"BANGGAKANLAH DIA"

Ini bukan karya boy, girl
ini renungan
apalah air mata tak ada guna
semua itu kemauan hati
terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Mata

Hei, Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu menyelipkan rambut di belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi Ah, akupun juga khawatir tulisan ini sama sekali tidak membawa arti Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu berkenalan dengan anak kucing sambil mengomel tentang mahasiswa-mahasiswa yang begitu mencintai dirinya sendiri

Jangan Menangis, Adikku

adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang laki-laki yang bekerja dalam dendamnya tawa dan keikhlasan menggantikan tangisnya bertindak begitu bijaksana dalam amarahnya dan kau mengaguminya aku pernah menceritakan padamu tentang perumpamaan-perumpamaan bagus milik sajak penyair besar tentang semua laku kehidupan yang saling berhubungan dan kau terus mempertanyakannya ingatkah kau adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang buku-buku yang mengantar kita lintas waktu dan peristiwa yang memberi tahu tentang kejujuran, kekuatan, dan keberanian yang memberi tahu tentang kenyataan dan tragedi yang memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa bahwa kita manusia kecil yang tidak tahu apa-apa dan kau mengajakku untuk berbicara masa depan