Langsung ke konten utama

Kamu Tidak Sendirian

Tetes air mata sebuah penyesalan
 Terus mengucur seiring berjalannya waktu
aku ingin semua tahu rasanya kehilangan
kepedihan yang sangat mendalam

tak usah takut
dia tetap melihatmu
tersenyum saat kamu tersenyum
menangis saat kamu menangis
dia ada di hatimu
menemanimu
percayalah

dandani hatimu
milikilah sebuah visi dan misi
tak usah muluk-muluk
sulit namun kamu harus belajar
tanamkanlah
"BANGGAKANLAH DIA"

Kamu tahu dosa
kamu tahu pahala
kamu sudah dewasa
kamu tahu
kamu sudah tahu
apa yang harus kamu lakukan

hidup masih luas
hidupmu masih 10%
jadikan itu sebagai bara api
sebagai semangat
sebagai kemauan untuk maju
untuk apa ?
kembali ke kata tadi
"BANGGAKANLAH DIA"

1 lagi teman
teman, aku, ada untuk kamu
kau bisa jadikan aku sebagai pengganti
sebagai jalan
sebagai tumpuan
untuk menuju kesuksesan
kembali ke kata tadi
"BANGGAKANLAH DIA"

Ini bukan karya boy, girl
ini renungan
apalah air mata tak ada guna
semua itu kemauan hati
terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...