Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Seorang Tua dan Kucing Kecil Warna Hitam

Seorang tua menulis di buku catatannya. "Berkendara menyisir malam Aku melihat kucing kecil warna hitam duduk hampir di tengah jalan duduk, bukan meraung-raung mencari ibunya, hilang arah, atau berharap keselamatan Sebentar saja bergidik membayangkan yang macam-macam Beberapa detik kasihan dan ingin meminggirkan, tapi kemudian itu kulewatkan beberapa detik lagi setelahnya Bersama kegelisahan aku lanjutkan Berkendara menyisir malam Satu, barangkali kucing kecil warna hitam itu memang ingin bunuh diri. Dua, apakah memang baiknya kucing kecil warna hitam itu segera terlindas, mati, penyet, dan masuk surga meninggalkan dunia yang menyedihkan ini? Terserah kau pilih kata apa. Menyedihkan? Membosankan? Tidak adil dan sarat penindasan? Tiga, bagaimana kelanjutannya jika aku meminggirkannya. Ia tidak jadi mati segera, meringkuk siang malam di daun-daun basah, berhadapan dengan perlakuan anak-anak Adam muasal penderitaan, malah mati perlahan karena dalam perutnya membusu...

Catatan Kemarin Tentang Musik

Satu, Dinihari hingga ke dinihari lagi, fajar lusa hingga malam kemarin, mungkin sudah seratus kali kuputar ulang Porz Goret - Yann Tiersen. Di kantor, di kedai, di rumah habis mandi. "Waktu dengar ini, kamu membayangkan apa?" Tentang perasaan kalah, jawab seorang teman. Dua, Ada satu masa, aku sering marah pada ibu. Kalau sudah begitu seakan jadi kebiasaan, mengkurep di atas kasur, aku putar Marduk (band black metal Swedia) via gadget volume penuh, kemudian gadgetnya kutaruh menempel di telingaku. Cari perhatian. Biar kelihatan marah. Entah kenapa secuil memori itu (aku dan metal) yang mengapung di permukaan, sewaktu kawan-kawan lama memulai merencanakan lagi bengok-bengok/meringkik-ringkik/bermetal-ria, via grup whatsapp sebelum bulan-bulan depan jadi pertemuan. Tiga, Ditutup dengan Nyanyian Akar Rumput. Mataku bengkak keluar bioskop. Ada adegan Sayem (Ibu Wiji Thukul) membangunkan Fajar Merah di kursi ruang tamu. Ia dekatkan wajahnya ke Fajar, mulanya bercanda, la...

Buku: Kuda Poni Merah - John Steinbeck

Hail Steinbeck. Pencerita dengan detail luar biasa. "Sebuah karya...kaya dengan rincian-rincian yang mengungkap seluk beluk kehidupan peternakan yang tentram sekaligus penuh kepekaan dalam mengulas pergolakan batin seorang bocah yang tengah mengarungi masa pendewasaan diri". Ber-setting koboi-koboian California, kita akan lekat-lebur bersama Jody, sang bocah peran utama. Merinci kembali bagaimana menjadi manusia yang baik seperti anak-anak. Berhari-hari murung di rumah dan sekolah karena kuda pemberian ayahnya sakit. Merasa kesepian usai satu malam rumahnya diinapi seorang tua yang tak dikenalnya. Lucu juga melihat bocah rajin itu mengemban tanggung jawab merawat kuda hamil. Kecemasannya menggemaskan dan mengharukan. Sampai pada upayanya mendengar cerita kakek menandakan ia begitu dewasa. Kisah tentang kasih sayang yang murni, tentang emosi, tentang dunia orang dewasa yang sibuk berkata-kata dan bertengkar, tentang mendengar dan memahami, terbagi menjadi 4 bagian yang semu...