Langsung ke konten utama

Gerimis di Yogyakarta

karya pribadi


Assalamualaikum
sebagai pembuka, tulisan ini saya buat setelah berjalan-jalan di Yogya beberapa minggu lalu dan berimajinasi. Hehe
Sama seperti sebelumnya, barisan konotasi agar sedikit indah,
makna yang tidak begitu dalam, tapi memang tujuannya hanyalah menyampaikan pesan.
Selamat  menikmati

***

 15.55
Hujan tak menghentikan laju kereta yang menderu deru
cepat dan dingin
seakan sudah terbiasa
mereka punya tujuan
tanggung jawab
tak pernah lupa
mungkin mereka anggap hidup ini adalah pembuktian
butiran air di jendela
mengalir perlahan mengingatkannya
tentang...

tak semua orang melihatnya
yang diterangi cahaya senja
yang mendengar lagu hingga mengantuk
yang melakukan perjalanan melelahkan
apakah kau mengerti?

Malam itu, sekitar stasiun Tugu
aspal basah bekas hujan tadi sore
tetap bergemerlapan lampu lampu kota
semakin menenangkan mendapati aksi musisi jalanan dan segelas minuman hangat
interaksi manusia yang saling hormat
menciptakan keadaan yang begitu rekat

Ah.. Begitu indah hidup ini
ketika dia dapat memikirkanmu
tersenyum saat kau tersenyum
gelisah saat kau menangis
tak banyak yang bisa menghargai
kebahagiaan kecil maupun sebuah momen
sederhana

Pagi hari di perbukitan Imogiri
memandang alam luar yang bersahabat memang melegakan
Bersyukur, karena masih bisa merasakan lelah
dan menciptakan sendiri perasaan yang luar biasa

dia namakan rindu
sesuatu yang belum pernah ia rasakan
ia hanya melihat yang orang lain rasakan
tetapi ia tuliskan apa yang tidak orang lain tuliskan

Ah.. Begitu indah hidup ini
ketika dia dapat memikirkanmu
tersenyum saat kau tersenyum
gelisah saat kau menangis
tak banyak yang bisa menghargai
kebahagiaan kecil maupun sebuah momen
sederhana

Gerimis lagi
Gerimis di kota Yogyakarta
kota yang menyenangkan dan kenangan yang baru saja tercipta
dia menantimu disana
menanti saat bicara dan bertatap mata
ya, sederhana

Marsetio Hariadi
12 Februari 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...