Langsung ke konten utama

Tentang Syafira




Assalamualaikum
Lama tidak menuliskan apa yang hati ingin tuliskan
sama seperti dahulu, hanya barisan konotasi agar sedikit indah,
makna yang tidak begitu dalam, tapi memang tujuannya hanyalah menyampaikan pesan. Semoga lebih dewasa dari yang dulu.
Silahkan menikmati.

***

Namaku Syafira

Untuk yang kedua kalinya

Tiap waktu selalu tidak mengerti
Tiap waktu terkadang berbeda
Terkadang siapa
Terkadang siapa
Ah, kau lelah jadi pemikir
Aku juga lelah meyakinkan diri

Oh ya, tapi aku punya waktu
Lelah ini tak akan hilang
Tapi mungkin akan tertutup oleh rindu
Seperti mereka yang terpisahkan antar bintang

Namaku Syafira
dan jujur, aku begitu angkuh
Angkuh ini punya alasan
Alasan yang tak dapat kukatakan padamu
Biar aku rasakan sendiri
Biar aku menangis sendiri

Hei!
Kau mendengarku?
Aku ingin tekankan
Mengapa mereka berpandangan mata ketika berbicara
Karena mereka manusia!
Setiap manusia dilahirkan untuk berhadapan, berharap, yakin, saling mendoakan, dan saling tidak mengerti!
Dari situlah asal mula lelah!

Hei
Aku pelankan suaraku
Berlarilah
Menulislah
Tertawalah
Kenalilah kau punya lautan
Ajak bicara angin yang berhembus
Aku angkuh tapi aku mempercayaimu
Disini, aku melihatmu
Menunggumu
Aku percaya, kau percaya

Marsetio Hariadi
29 November 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...