Langsung ke konten utama

Salju (Enjelita)


lama tidak menulis

***

24 Desember, 23.55
masih terjaga di tempat tidur yang hangat
melawan fakta
bertualang ke dimensi alam mimpi
aku ingin tersenyum
aku ingin menangis
menggapai

terdengar sayup - sayup derap kereta batubara
terdengar jelas ocehan anak kecil penuh khayal
aku ingin menatap salju di luar jendela
tapi aku ingin menutup mata
sebelum aku benar-benar merasa sendiri
..............

aku yang terbangun dan tak ingin
meninggalkan mimpi yang indah
melangkah menuju kenyataan yang pahit
masih terngiang rasa sakit
akankah lagi aku merasakan kebahagiaan

00.00
sampai pada saat bintang itu mulai terang
dan mengantarku pulang

Tuhan,
jika ini kegagalanku yang ke enam kali,
maka aku siap untuk ke tujuh kalinya
jika jalanku masih jauh mengejar pelangi,
maka aku siap untuk terus berlari
jika sampai saat ini aku belum bisa merasakannya,
maka aku siap untuk terus menanti

semua bukan keajaiban
tapi semua akan terjadi
saat aku percaya
terbangun lagi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...