Langsung ke konten utama

Dara

gregorypoet.files.wordpress.com


Alhamdulillah sudah solat hehe

terinspirasi dari sebuah lagu milik Ariel dengan judul yang sama
monggo

***

malam ini
hey
dengarkan sejenak
aku memiliki maksud sendiri
selain tak ingin kau sendiri

mungkin aku tak berhak
mungkin aku tak pantas bicara
aku tak peduli
menahan air matamu jauh lebih penting

bukan aku
jika tak memiliki rasa
bukan aku
jika tak bersungguh-sungguh akan rasa
bukan aku
jika tidak dipermainkan rasa
sekali lagi
aku tak peduli
menahan air matamu jauh lebih penting

kemarikan tanganmu
bersandarlah di pundakku
maafkan aku

maafkan aku yang sebenarnya tak berkuasa

aku hanya ingin kau tersenyum
aku hanya ingin kau tenang
aku hanya ingin kau kembali tertawa memandang senja

aku hanya tak ingin kau bersedih
aku hanya tak ingin kau menangis
aku hanya tak ingin kau tak nyenyak tidur di bawah purnama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...