Langsung ke konten utama

ORIENTASI



ke-lebay-an saya berlanjut. monggo.. sebuah tulisan terpaksa karena pensil yang hampir patah...
 
***

musim semi
kalender baruku dan
tersobek satu
sudah kesemutan sikuku
bersandar pada jendela yang makin menyilaukan
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra

musim panas
berhari hari kau berdiri
diterpa ombak setinggi kaki

menghadap sang surya sang tenggelam
kuberanikan keluar dari pintu kayu
bersembunyi di bawah pohon palm
dan silir angin pantai mengganggu

berhari hari kau berdiri
diterpa ombak setinggi kaki
tetap
menghadap sang surya sang tenggelam

terus kupandang tajam mahkota
yang terhempas
aku senang
aku sedih
aku marah !
Hah !

kau berkaca

musim gugur
"ku tetap berdiri disini
hingga matahari datang kembali
ku tetap berdiri disini
tak akan tinggalkan jejak sakit hati

wahai ombak
surutlah
agar ia dapat mendengar jeritku
wahai malam
pulanglah
aku ingin memandangnya cerah
wahai Tuhan
kuatkan aku
untuk tetap berdiri disini"

kau berkaca

musim dingin
dingin
jaket wol yang kubuat
untuk menutupi tumpukan kertas
kertas berharga penuh namamu
agar tak rusak
tak akan rela daripada kulitku
tergores salju tajam

berhari hari kau berdiri
diterpa ombak setinggi kaki
tetap
menghadap sang surya sang tenggelam

nafasku makin hari
singkat dihirup derap hampa

kau berkaca kaca

berhari hari kau berdiri
diterpa ombak setinggi kaki
tetap
menghadap sang surya sang tenggelam

ku pergi
ku hilang
jadi debu
mati
menangis
terbang

saat itu kau berpaling
juga menangis

***

pict from : pixalo.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...