Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Buku: Transit - Seno Gumira Ajidarma

Usai Saksi Mata dan Iblis Tak Pernah Mati, saya menebak-nebak, kengerian apa lagi yang diusung SGA pada kumcer terbarunya, Transit . Benar dugaan saya. Kumpulan cerpen yang ditulis rentang waktu 2003-2019 ini dibuka dengan 'Jakarta City Tour' yang amat mengerikan dan memualkan. Mengisahkan turis-turis luar negeri yang dipaksa mengikuti tur wisata pelanggaran HAM kala pembantaian '65 disambung kerusuhan '98, dan SGA begitu detail menuliskan ngeri-ngerinya. Segawon, cerpen yang saya rasa sangat apik. Kegelisahan terhadap masyarakat dan makna kehormatan diceritakan lewat sudut pandang seorang pengemis. Latar kota Paris digambarkan ramai namun sunyi, konsisten menemani alur cerita yang berakhir sangat menyesakkan hati. Pembaca SGA akan tahu apa yang saya maksudkan. Muncul kembali narasi pelanggaran HAM pada cerpen Gokill dan Setan Becak. Pada Setan Becak, cerita hantu dibarengi paparan kejadian pembantaian '65 menghadirkan kengerian dua kali lipat, ditambah lagi cerp...

Cerita Tentang Sandal

Tangisan Ica memang melolong-lolong. Tapi bukan seperti serigala dalam film yang suaranya memang dirancang sedemikian rupa untuk dinikmati. Yang ini begitu keras dan memekakkan telinga. Entah bagaimana bisa, selalu ada saja perkara-perkara yang membuat bocah 4 tahun cucu tetangga depan kos-kosan itu menangis tiap pagi. Neneknya juga begitu. Mungkin, kerinduan si nenek pada suaminya yang telah lama mati, persoalan rumah tangga, tekanan ekonomi dan tempat tinggal, semua tersalurkan menjadi bentakan-bentakan yang tidak kalah memekakkan telinga. ‘Diaam!, Nangis terus!, tak kancingi di kamar ya! Kamu mau apa?!’, dan berbagai bentakan lain mencoba menandingi tangisan si bocah. Tangisan dan bentakan yang bersahutan itu sudah menjadi alarm bangun pagiku. Saking seringnya, hampir tiap pagi. Tapi semua itu hanya bisa kudengar. Tak pernah sekalipun sempat kulihat dari jendela kamar, karena harus buru-buru mandi dan berangkat kerja. Takut terlambat. "Biasa Ica itu, mas. Ibunya nja...