Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

DUNIA SEKARANG

CUMA MEMANDANG BOKONG (Rifky Eko Setiawan)

Dia menari di tengah ilalang melirik keagungan memasamkan getir dalam pangkuan Dia cuma Cuma memandang Dia berlari, namun tak ingin mengejar berpeluh dan tak terpapar letih tak mencuil ikrar Dia hanya Hanya memandang Dia melihat, namun tak terlihat mengkerdip - kerdipkan hasrat mengalih pandang dan tertunduk penat Dia ingin Ingin memandang Dia melindungi, dan tak akan pernah terlindung menciut di bawah selangkang diantara tetesan - tetesan penghinaan Dia sadar Sadar memandang Dia berharap dan tak akan diharapkan pandang Dia meneteskan dan tak ingin terteteskan pandang Dia mendoakan dan tak akan didoakan pandang Dia muliakan dan tak ingin termuliakan pandang Dia memandang dan tak akan terpandang Dia memandang Hanya memandang

CUMA MEMANDANG BOKONG (Marsetio Hariadi)

Beralur, saat Tuhan sesekali menurunkan cintanya kesempatan yang ia raih memuakkan dan ia tak muak dengan itu beralur, lari kecil musang hutan mengiringi sinar yang membutakan tak menghentikan langkah mencari teori yang tak bisa disebut kesesatan beralur memang beralur, seperti detik alunan lagu mengalir pelan Blue sky turning grey like my love and who was gonna save you when i'm gone and who watch over you when i'm gone sedikit nada Alterbridge mewakili sedikit air mata saat melihatnya berpaling kelantangan teks puisi usang mewakili kemauan yang mendalam saat berharap tak ingin ia berpaling api yang tak pernah padam menggenggam tanganku untuk berlari mengejar ketidakpastian ketidakpercayaan yang tak pernah berakhir menyiksa jiwa untuk yang terbaik tak pelak setiap menit menggoreskan luka dengan darah yang terus menetes dari jarinya terseret angin menuju samudera tanpa batas semenit yang sia-sia juga melahirkan janjinya cuma memandang bokong, satu-satunya ternyata

6 FEBRUARI

6 Februari . . Terus tersenyum menahan tangis . . Senyumnya manis , Manis , Namun sakit di hati ini . . 6 Februari . . Deru kereta memaksaku untuk ikhlas . . Terus mencengkeram tanganku menahan tangis . . Tangannya lembut , Lembut , Namun pedih di hati ini . . 6 Februari . . Langkahnya menjauh meninggalkanku . . Terus menatapku menahan tangis . . Tatapannya bening , Bening , Namun duka di hati ini . . 6 Februari . . Aku berpaling dan melambai . . Aku tak berharap kembali . . Harapan menyentakku ! Memelukku dan menangis . . Bisikannya merdu , Merdu , ”Tenang , aku tetap disini untukmu . . . ” Ah . . 6 Februari . .

AROGANSI MUNAFIK

detik kegelapan tak pernah berhenti ribuan raungan melolong menakutkan maksud akan lutut tertekuk otak tertunduk bukan itu yang terjadi sebuah tanda satu lagi alasan menumbuhkan jeritan dalam geraman tertawa dalam kesendirian arogansi munafik terus menerjang lorong hitam penuh ketakutan tapi penuh pula senyum dan kesombongan nurani yang membatu semakin mengerti dan membuang logika bergerak resiko nyawa kenekatan tercampur darah ketakutan tertutup amarah munafik

ANTI - SOSIAL

saya hidup hidup milik saya saya mati kelak mati yang menentukan adalah Tuhan saya bergerak gerak dari otak pemikiran saya tahu surga dan neraka saya tahu matahari tenggelam dimana saya labil labil masih proses saya membakar saya berani saya marah saya tersenyum saya belum butuh belum bukan tidak saya belum butuh belum bukan tidak saya dicaci saya tertawa tertawa akan bodohnya binatang saya punya urusan urusan hanya milik saya saya tak dengar saya tak dengar rintihan saya tak dengar teriakan saya tuli dalam waktu tertentu saya sendiri jujur saya sendiri tidak berbohong saya kini saya

WAKTU BUKAN TAKDIR

sering kali kayu terbakar air bergejolak menenggelamkan kesempatan dan ego membakar menghambat pembuluh darah waktu bukan takdir sebuah keberanian berdiri di mulut jurang mengangkat nama logika menantang yang bernama takdir kata orang tahu dosa jelas tak berani menyalahkan Tuhan tapi lantangnya suara mewakili nalar jahat memaksa untuk mengesampingkan fakta memaksa neraka membuka gerbangnya kata orang waktu bukan takdir kelam saat ingin terang hitam saat ingin putih waktu bukan takdir adalah sebuah cara menggenggamnya mengendalikan, bukan menantang

B(L)ACKGROUND - Copyright

Ketahuilah ia bertanggung jawab walau matahari terbit dari barat walau Tuhan menjadikannya malaikat ketahuilah ia bertanggung jawab Tulisan bukan sampah meski tak berarti Tulisan bukan rongsokan meski tak bernilai tulisan adalah tulisan tulisan adalah muntahan tulisan adalah tulisan adalah hitam mendung yang menyelubung hitam yang menutup hitam yang bukan warna hitam yang terpilih hitam yang ia pilih hitam yang diyakini hitam yang terlihat jahat ia mulai bercerita yang ia ciptakan bukannya tak berarti yang ia ciptakan bukannya tak bernilai ia bukan pujangga yang berpuisi ia datang dari gelap ia terang ia datang dari hitam ia putih ia ingin dicaci ia ingin dimaki ia tak ingin dihargai ia tak ingin dihormati ia bangga terhadapnya blackground blackground blackground black