Selasa petang di Surabaya adzan maghrib sahut-menyahut tapi kalah keras dengan guyuran hujan deras yang juga memaksa makhluk-makhluk ciptaan-Nya menahan diri untuk tidak beringas di tengah kemacetan jalan raya yang berkilo-kilo panjangnya kami semua ada di dalam kemacetan itu ketika anak-anak kecil di gang kampung hujan-hujanan mumpung bapaknya belum datang mereka lebih takut ditampar dan dihajar daripada diculik setan di bawah jembatan penyebrangan orang-orang tua memarkir motornya dan mengerumuni gerobak bakso sesaat bahagia sambil kepanasan lidahnya kena kuah panas si penjual itu lebih lama bahagianya syukur hujan membawa berkah dan bisa tidur nyenyak nanti malam umpatan dan bunyi klakson tak bermakna lagi tak bisa mewakili amarah dan ketakutan mereka rasa syukur dan kepuasan yang ini hanyalah semu ketidaksadaran terlalu lama ada dalam penderitaan senyum yang selalu pura-pura saat menjilat pada atasan tempat kerjanya maupun saat menahan lapar di depan putra putr...
"Apa yang selalu bisa kita lakukan adalah memperluas wilayah kewarasan sedikit demi sedikit, dari individu ke individu, generasi ke generasi." -1984