Langsung ke konten utama

Berlayar Menuju Sunrise Kedua


http://www.kreavi.com/project/34683/Berlayar-Menuju-Sunrise


tak pernah ada hubungannya
dengan
berlayar menuju sunrise

lagi-lagi dia begini
tapi asal tahu saja
semua ini baru dia sadari

duduk, menatap mata, bicara
menyakiti
sakit hati
tersenyum dan memilah

dia jujur
untuk hal yang terencana dijujurkan
dia bohong
untuk hal yang terencana dibohongkan
tak pernah terima kenyataan
sehingga dimulainya peperangan
atas dirinya sendiri
tapi asal tahu saja
semua ini baru dia sadari

makin menua
makin membunuh makin dibunuh
makin melukai makin dilukai
tapi ini ilmu pasti
berlayar menuju sunrise!
diterpa
diterpa
diterpa
jati diri

engkau
mungkin saat ini
engkau yang harus menemaninya
kenapa?
engkau yang terhitung paling sering
membunuhnya

Marsetio Hariadi
Ditulis 21 September 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...